Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam

Oleh: Mohamad Adzim Bin Samsudin

Setelah Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai hairan. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.

Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai hairan. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!. " Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini.. " Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r. a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah. " Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu. '" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu. " Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. " Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majlis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain. " Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan. "
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. " "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik. "

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rakan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah.. ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin. " Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis. " Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja, " Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu. " Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia. " Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"

Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah. " kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu. " Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini. " Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!"

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah...

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah... ?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"

Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah.. Ya Allah saksikanlah.. Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah.. Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"



Ustaz Abd Aziz bin Harjin
Pensyarah Tamadun Islam
Universiti Teknologi MARA Perlis
02600 Arau
Perlis
MALAYSIA

P: 04-9882701
H: 013-4006206
E: abdazizharjin@perlis.uitm.edu.my
W: abdazizharjin.blogspot.com

Rahmat Di Sebalik Dugaan Hidup

Oleh: Nurul Azreeyah Binti Awang Azli

Dalam menghadapi berbagai ujian dan dugaan selama hidup manusia di dunia ini, adalah sangat sedikit sekali bilangan manusia yang tahan diuji. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengertian, atau terdorong oleh kehendak hawa nafsu yang tidak pernah mengenal puas, sehingga tidak redha menerima ketetapan ilahi dan menganggap sesuatu yang ia milikidi dunia ini adalah abadi. Mengingat kepada perkara tersebuut, penulis merasa perlu untuk menyajikan tulisan ini.

ISI
Hidup di atas muka bumi ini tidak akan pernah sunyi dari susah dan senang, dan suka dan duka yang datang silih berganti. Sesiapa yang menyangka hidup ini hanya kesenangan, kegembiraan dan kemewahan sahaja atau sebaliknya sahaja iaitu kehidupan ini hanya kesusahan, kesedihan, kesempitan selama-lamanya, semua itu adalah salah. Kesenangan dan kesusahan adalah seni kehidupan dan ia juga merupakan sunatullah pada alam semesta ini.

Kesenangan atau kesusahan itu adalah merupakan ujian dan dugaan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada hambanya. Oleh itu, dapatlah dikatakan bahawa hidup ono penuh dengan ujian dan dugaan. Sesuatu benda kalau tidak diuji, tidak akan nampak kekuatannya. Begitu juga manusia khususnya orang yang mengaku dirinya beriman, sudah tentu harus melalui pelbagai ujian dan dugaan. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah Al-Ankabut, ayat 2 hingga 3, yang membawa maksud, “Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji terlebih dahulu? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah SWT mengetahui orang-orang yang benar dan dusta. ”
Tujuan dati musibah dan dugaan yang diturunkan Allah SWT kepada hambanya ialah untuk membezakan yang mana orang mukmin sejati dan yang mana orang munafik. Ini adalah kerana terdapat ujian yang menyebabkan manusia mudah tergelincir dan salah satumya ialah ujian aqidah dan agama. Ramai yang mengaku Islam, beriman, termasuk alim ulamak, namun setelah diuji iman dan agamanya oleh Allah SWT dengan pelbagai ujian, ternyata lemah dan terjerumus sehingga menjadi sesat.
Selain itu, musibah dan dugaan ini diturunkan adalah untuk menghapuskan dosa sebagaimana yang terdapat di dalam hadis HR. Muslim di mana Rasulullah SAW bersabda yang membawa maksud, “Tiada musibah apa pu yang menimpa diri seorang muslim melainkan Allah menghapuskan keburukannya (dosanya) walaupun duri yang mengenai dirinya.
Ujian dan dugaan yang diturunkan juga adalah untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketaatan seorang hamba. Ini dapat dilihat dari sebuah hadis Qudsi yang membawa maksud, “Allah berfirman kepada para Malaikat-Nya: “Pergilah kamu kepada hamba-Ku timpakanlah berbagai ujian kepadanya kerana Aku ingin mendengar suaranya”. Daripada hadis tersebut, Allah telah memerintahkan para malaikat supaya melakukan berbagai ujian dan dugaan kepada hamba-hamba-Nya. Dengan itu, dapatlah didengar suara hamba-Nya yang sedang mengalami ujian dan dugaan tersebut. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati hamba-Nya.
Tambahan pula, ujian yang diturunkan dapat membentuk dan mendidik keperibadian manusia sehingga menjadi umat berbudi tinggi. Ia juga sebagai latihan supaya manusia terbiasa menerima ujian dan dengan demikian akan bertambah kesabaran, kuat cita-cita dan tetap pendiriannya.
Ujian dan dugaan tersebut pula tidak hanya berupa kesusahan, kesulitan dan kesakitan sahaja, akan tetapi ia juga berupa kesenangan dan kemewahan. Pada hakikatnya, ujian yang berupa nikmat harta kekayaan dan berbagai macam kesenangan pada hakikatnya adalah lebih berat daripada ujian yang berupa bencana dan seksaan. Ini dapat dilihat bahawa ramai orang yang memperoleh kekayaan tetapi kekayaan itu menyebabkan kesusahan bagi dirinya kerana ia tidak dapat menggunakan hartanya itu dengan sebaik mungkin. Justeru kekayaan itu menjadi ujian bagi dirinya.
Dalam mengahadapi ujian-ujian tersebut, manusia perlu redha menerima apa yang telah ditentukan oleh Allah kepada mereka. Maka dalam hal ini, mereka perlu mengetahui hakikat daripada takdir yang telah ditentukan oleh Allah untuk mereka. Mereka harus mengetahui mana satu ketentuan yang harus diterima seadanya dan ketentuan yang perlu usaha untuk merubahnya. Takdir ini ter bahagi kepada dua iaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq.
Takdir adalah ketentuan Allah atas segala sesuatu yang diciptakan. Allah menciptakan segala sesuatu dan setiap sesuatu itu telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Takdir merupakan kemungkinan yang dapat terjadi atas sesuatu. Tidak seorang pun manusia yang dapat menghindari diri dari takdir baik mahupun buruk jika Allah mengkehendakinya. Akan tetapi tidak seorang pun manusia yang mengetahui atau diberitahu tentang takdirnya esok atau di kemudian hari. Justeru, Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk berusaha agar memperoleh takdir yang diharapkan atau diinginkan.
Setelah manusia berusah mengikut kemampuannya, dan dia merasakan sudah sedaya yang mungkin ia tempuhinya, yang demikian itu, akhirnya dia harus menerimanya sebagai takdir. Berusaha itu wajib bagi manusia. Terdapat ungkapan yang berbunyi : jangan menyerah pada nasib. Ia tidaklah bererti manusia boleh menolak nasib atau takdir tetapi manusia harusberusaha merubah nasibnya jikalau masih belum mencapai apa yang diharapkan. Takdir pula terbahagi kepada dua iaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq.
Takdir mubram ialah qada’ dan qadar yang tidak dapat dielakkan oleh manusia. Dalam erti kata lain, ia pasti terjadi pada diri manusia. Dengan itu, manusia tidak mempunyai kesempatan memilih atau tidak mempunyai pilihan pun. Sebagai contoh, jantina, hari kiamat dan hari kematian. Sebagaimana firman Allah SWT, di dalam surah, Al-Araf, ayat 34, yang bermaksud, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mngundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya”.
Takdir mu’allaq ialah qada’ dan qadar yang bergantung kepada ikhtiar seseorang itu mengikut kemampuan yang ada pada manusia. Untuk menghadapi takdir ini, manusia wajib berusaha mengikut kemampuan yang ada untuk mungubah keadaan supaya menjadi lebih baik ke arah mencapai tujuannya. Soal berhasil atau tidak usaha tersebut, adalah bergantung kepada pertolongan Allah. Tetapi ini tidak menjadi alasan untuk berputus asa. Sebab berusaha memang telah menjadi kewajipan manusia. Ia dapat dilihat dari firman Allah SWT dalam surah Ar-Ra’d, ayat 11, yang bermaksud, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan (nasib) sesuatu bangsa sehingga bangsa itu mahu merubah keadaan (nasib) mereka sendiri”.
Islam telah menyeru umatnya supaya sentiasa bersabar terutamanya semasa menghadapi musibah. Sebagaimana yang dapat dilihat dari firman Allah SWT, dari surah Al-Baqarah, ayat 153, yang bermaksud, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar”.
Sabar ialah satu kekuatan yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajipan, juga satu kekuatan yang menghalang seseorang dari melakukan kejahatan. Sabar juga merupakan sifat yang membezakan antara manusia dan haiwandalam perkara menundukkan hawa nafsu. Dorongan hawa nafsu pula ialah tuntutan syahwat dan keinginan yang minta dilaksanakan. Oleh itu, sesiapa yang dapat menahan diri sehingga ia dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara berterusan, maka orang tersebut termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar.
Bila seseorang itu menghadapi dugaan dan penderitaan dengan redha, ikhlas serta mencari jalan keluar dengan cara yang baik, tidak mengeluh, mengaduh dan sebagainya, maka Allah pasti akan memudahkan baginya hisabnya pada hari kiamat. Allah akan menyegerakan balasan pahalanya memberkati kehidupannya sehingga timbangan amalnya tidak berat kepada kejahatan yang disudahi dengan masuk ke dalam syurga yang penuh dengan seribu satu kenikmatan.
Kebanyakan orang menyangka bahawa sabar bererti merendahkan diri dan menyerah kepada keadaan, membiarkan diri hanyut dalam keadaan tersebut, atau menghentikan usaha tanpa berikhtiar untuk mencari jalan keluar. Tetapi pengertian ini tidaklah tepat, sebab yang dikatakan sabar ialah menghadapi dugaan dan ujian dengan cara yang baik, berikhtiar untuk mencari jalan keluar dan membiasakan diri melakukan amal perbuatan yang soleh dan teruskan berusaha sambil menjadikan pengalaman itu sebagai dorongan untuk mempunyai kemahuan yang kuat disertai dengan keimanan dan keyakinan yang penuh istiqamah.
Semasa menghadapi sesuatu musibah, seseorang itu haruslah bersabar, tidak mengeluh dan redha dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Sesungguhnya keluh kesah hanya akan menambah kesukaran menghadapi musibah. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah kerana walau bagaimana keluhannya, pada akhirnya, dia harus bersabar juga dan menerima semuanya.
Selain itu, kadangkala, semasa menghadapi sesuatu musibah itu, seseorang itu akan berasa sedih sehingga boleh menitiskan air mata. Sesungguhnya perasaan sedih yang tidak keterlaluan tidak akan menyebabkan dosa pada diri seseorang. Sebagai contoh, menangis kerana rasa sedih atas meninggalnya seseorang sebagai ungkapan dari belas kasihan adalah baik dengan syarat harus menerima semuanya dengan penuh kerelaan dan sabar. Begitu juga bagi orang yang bersedih kerana musibah yang menimpa diri kaum muslimin, maka perasaan sedih yang demikian itu juga akan mendapat pahala kerana orang yang demikian adalah termasuk dalam orng yang mencintai kebaikan dan membenci keburukan.
Akan tetapi jika kesedihannya itu menyebabkan dia meninggalkan perintah Allah SWT, serta mengerjakan larangan-Nya seperti tidak rela dan tidak sabar, maka perbuatan demikian itu termasuk perbuatan yang dilarang, bahkan ia akan memperoleh dosa san kesedihannya.
Selain dari itu juga, haruslah diingat, ketika seseorang itu ditimpa musibah, hendaklah dia berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata. Jauhilah ucapan yang akan membuatkan Allah murka kepadanya serta boleh menghapuskan pahalanya. Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Adil dan tidak akn berbuat kezaliman dan Maha Mengetahui segala yang dilakukan-Nya penuh kebijaksanaan, serta menyimpan banyak kebaikan.
Terdapat beberapa petua dalam menghadapi rintangan yang mendatang iaiatu jangan berputus asa dalam berdoa. Setiap orang dianjurkan supaya berdoa, akan tetapi tidak semua doa itu akan terus dikabulkan oleh Allah SWT. Ada yang cepat dan ada pula yanglambat. Jika sesuatu doa itu lambat dikabulkan oleh Allah SWT, janganlah berputus asa kerana Allah SWT lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Petua untuk menghadapi rintangan yang lain ialah dengan menghadap dan bersyukur kepada Allah SWT. Allah mahu supaya hamba-Nya supaya selalu mengingati dan kembali pada-Nya, walaupun kembalinya itu dengan cara paksa. Sebagai contoh, orang yang sakit, pada waktu sihatnya dia lupa kepada Allah SWT, akan tetapi kerana sifat kasih sayang-Nya, maka dia diingatkan dengan datangnya cubaan sakit. Akhirnya, dengan sakitnya itu ia terpaksa kembali mengingati Allah SWT. Oleh itu, sudah sepatutnya manusia selalu bersyukur kepada Allah SWT.
Selain itu, janganlah berpaling kepada selain Allah SWT dalam memohon semua keinginan. Hanya kepada-Nya sahaja semua hajat kita hadapkan. Sebab Dia adalah zat Yang Maha Pemurah, yang selalu menjadi harapan dari semua hajat yang kita perlukan. Justeru itu, jangan sekali-kali memohon sesuatu kepada selain-Nya.
Sebagai tambahan, jadikanlah al-Quran sebagai sahabat dalam kegelisahan. Bagi orang yang beriman, ia akan mengetahui bahawa Al-Quran mempunyai tugas kemanusiaan, baik untuk diri manusia secara peribadi mahupun untuk masyarakat umum, iaitu mengarahkan manusia dengan cara yang sempurna. Di samping itu juga, Al-Quran adalah ubat yang hakiki bagi penyakit kegelisahan manusia. Al-Quran adalah jawapan yang benar bagi tuntutan manusia yang hakiki. Manusia tidak akan mengetahui hakikat kemanusiaannya dan tidak akan mengetahui jalan hidup yang lurus, kecuali dengan petunjuk Al-Quran.

KESIMPULAN
Dalam kehidupan seharian, kita tidak akan dapat lari dari dugaan dan ujian. Kadangkala tidak kita sedari. Walaubagaimana pun, jikalau kita lihat dan memikirkannya, kita akan dapat lihat dan sedar bahawa disebalik setiap dugaan itu terdapat hikmah di sebaliknya. Sesungguhnya, Allah SWT Maha Mengetahui. Dia tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan manusia hanyalah insan yang lemah yang memerlukan petunjuk untuk menjalani kehidupan seharian. Oleh itu, setiap manusia harus bersyukur dengan apa nikmat yang telah dikurniakan dan menggunakannya sebaiknya. Dalam menghadapi dugaan pula, manusia seharusnya, menyedari hikmah disebalik setiap dugaan itu dan jadikannya dorongan untuk terus sabar dan tabah menghadapi segala cabaran yang mendatang.



Ustaz Abd Aziz bin Harjin
Pensyarah Tamadun Islam
Universiti Teknologi MARA Perlis
02600 Arau
Perlis
MALAYSIA

P: 04-9882701
H: 013-4006206
E: abdazizharjin@perlis.uitm.edu.my
W: abdazizharjin.blogspot.com

Sebelum Dan Sesudah Wahyu

Oleh: Mohd Solihin Bin Mohd Hasan

Hasil karya ini menceritakan tentang sejarah-sejarah pembangunan islam. Sebelum kehadiran para Rasul dan Nabi-nabi umat manusia tidak mempunyai hala tuju. Pada zaman itu mereka digelar masyarakat jahiliah. Masyarakat ini mempunyai pelbagai ciri untuk mengenal pasti mereka ini adalah masyarakat jahiliah. Secara amnya agama islam tersebar dengan penguasaan empayar oleh pemerintah-pemerintah pada zaman kegemilangan islam. Karya ini juga menceritakan tentang cara kehadiran islam ke tanah melayu dan juga ke sekitar Asia Tenggara. Karya ini juga menyatakan sejarah itu adalah untuk pengajaran kepada manusia zaman kini. Ini terbukti apabila terdapat pelbagai kisah pengajaran yang tercatat dalam Al-Quran. Kesemua kisah-kisah adalah untuk pengajaran kepada mereka yang mempunyai hati. Karya ini menyatakan utnuk seseorang itu mempelajari dan mengkaji sejarah islam perlulah terlebih dahulu meneliti tentang tanah Arab. Pelbagai perkara yang disentuh oleh pengarang. Pada zaman keenam Masihi adalah tahap kemunduran darjah kemanusiaan keseluruhannya. Berlakunya seperti ini apabila sebelum kehadiran Islam dan setelah Islam itu hadir, ia membawa cahaya kepada umat manusia. Apabila ada manusia semestinya wujud agama. Dan apabila adanya agama disitulah wujudnya bangsa. Agama dan bangsa saling berkait rapat. Dengan agamalah bangsa itu dikenali. Agama yang mendidik umat manusia menjadi bertamadun. Semua manusia yang tidak mempunyai agama telah mengalami kehancuran kerana tidak mempunyai panduan hidup. Bermacam-macam dosa dan perkara keji dilakukan oleh manusia sebelum kedatangan Islam. Perkara yang paling ketara adalah penyembahan berhala. Buku ini juga menceritakan tentang bangsa dan agama lain dalam dunia ini. Kisah dalam buku ini banyak berkisar di kawasan tanah Arab. Kawasan tanah Arab terbahagi kepada 2 bahagian yang besar, dan dalam bahagian yang besar itu terdapat banyak daerah. Dikawasan tanah Arab terdapat berbagai-bagai bangsa. Semua bangsa Arab berasal dari keturunan samitik. Bangsa samitik ini mengikut sejarah adalah dari Sam bin Nuh.

Di kawasan tanah Arab lah wujud pelbagai kisah untuk dijadikan teladan kepada umat manusia. Keturunan al-arab al-ba’idah adalah keturunan yang telah lenyap dan tidak ada kesan sejarah ataupun catatan sejarah terhadap kaum ini. Hanya dapat diketahui melalui Al-Quran dan kitab-kitan langit yang lain. Al-arab al-baqiyah adalah keturunan arab yang masih ada lagi hingga kini. Keturunan ini terbahagi kepada banyak bahagian. Terdapat banyak kerajaan yang lahir didalam kawasan tanah arab. Kemunculan kerajaan-kerajaan ini hasil daripada pemerintah yang memerintah dengan bagus. Tetapi setiap kerajaan yang telah membangun akan mengalami kejatuhan. Satu-satunya kerajaan yang dapat bertahan ialah Negara kota Makkah. Makkah juga disebut dengan nama Bakkah dalam Al-quran. Makkah adalah tempat kelahiran Islam dan juga tempat di mana nabi Muhammad s.a.w dilahirkan. Dengan adanya ka’bah Makkah menjadi mahsyur. Ketua pemerintahnya adalah Qusaiy dan juga datuk kepada nabi Muhammad s.a.w. Beliau telah memindahkan semua orang-orangnya ke dalam kota Makkah. Sebelum kedatangan Islam lagi Makkah menjadi pusat pemerintahan. Sebelum kedatangan Islam bangsa arab makkah menyembah berhala. Dalam kota makkah itu sendiri mempunyai sebanyak 360 buah berahala. Makkah dibawah kuasa pemerintahan Qusaiy membangun kerana sistem pemerintahan yang teratur. Semasa sebelum kedatangan islam juga manusia melakukan ibadah haji tetapi mereka melakukan ibadah itu dengan cara mereka.
Pelbagai sistem diperkenalkan oleh Qusaiy untuk menjadikan pemerintahannya berjalan lancar. Bangsa arab terbahagi kepada 2 bahagian, iaitu utara dan selatan. Pembahagian ini membuatkan banyak perbezaan diantara kaum. Bangsa arab juga mempunyai 2 golongan iaitu golongan hadari dan badwi. Golongan hadari ini adalah golongan arab yang tinggal di kota. Golongan ini mempunyai corak pemerintahan yang teratur. golongan badawi pula adalah golongan yang tinggal di kawasan pendalaman dan hidup secara berpuak-puak. Bagi golongan ini mereka mempunyai ketua masing-masing yang dikenali syeikh. Ekonomi orang arab pula berdasarkan kepada 4 jenis pekerjaan iaitu pertanian, perniagaan, ternakan dan pertukangan.

Orang-orang arab mempunyai bermacam-macam kepercayaan sebelum kehadiran islam ke tanah arab. Antara agama yang dianuti mereka ialah Animisme, Penyembahan Cakerawala, Penyembahan Berhala, Agama Hanif dan terdapat juga pengaruh agama Majusi, Yahudi dan Nasrani. Kesemua agama ini adalah agama yang menyeleweng dan tersasar jauh daripada agama islam. Sebelum kedatangan islam orang-orang arab sangat taksub dengan agama mereka sehinggakan ada yang sukar untuk menerima islam. Sebelum kebangkitan kerajaan islam terdapat 2 buah kerajaan yang mahsyur dan menjadi kerajaan yang kuat. Kerajaan itu adalah kerajaan Parsi dan Rumawi. Kerajaan-kerajaan ini menjadi kuat kerana sistem pertahanan kerajaan itu yang kukuh.
Lahirnya nabi Muhammad s.a.w telah memberi sinar perubahan yang bakal berlaku kepada orang-orang arab. Terbitnya fajar 12 rabiul awal pada tahun gajah yang berasamaan dengan 20 haribulan April, tahun 571 Masihi lahirlah seorang putera Abdullah yang diberi nama Muhammad. Muhammad lahir di kota makkah. Baginda berketurunan Bani Hashim, dan dari suku Quraish. Dari kecil lagi baginda telah menjalani hidup yang susah. Sejak lahir lagi baginda tidak pernah melihat ayahandanya.
Baginda telah memiliki sifat-sifat yang luhur dan nilai-nilai murni sejak baginda kecil lagi. Nabi Muhammad s.a.w digelar AL-AMIN dikalangan sahabat dan kenalan kerana mempunyai pekerti yang baik. Semasa baginda di usia remaja, hidupnya bersama bapa saudaranya. Baginda membantu bapa saudaranya memelihara kambing dan pekerjaan lain untuk menyara hidupnya. Baginda mula belajar berniaga dan telah menjadi orang yang dipercayai oleh saiyidatina Khadijah kerana telah memberi keuntungan perniagaan Khadijah. Pelbagai peristiwa yang baginda alami semasa sebelum menerima wahyu. Setelah segala peristiwa yang dilalui baginda kita dapat tahu bahawa nabi Muhammad s.a.w. ini seorang yang bijaksana mempunyai segala jalan penyelesaian masalah yang timbul. Dari itu juga kita dapat lihat bahawa nabi Muhammad s.a.w adalah seorang pemimpin kepada umat islam.

Nabi Muhammad s.a.w mempunyai isteri ketika baginda berumur 25 tahun. Isteri baginda ialah saiyidatina Khadijah iaitu seorang janda kaya bangsawan, beliau tertarik kepada baginda kerana sifat baginda yang amanah dalam menguruskan perniagaannya. Dengan perkahwinan ini nabi Muhammad s.a.w telah mendapat ruang dan keselesaan untuk melakukan ibadah baginda. Semasa baginda mengasingkan diri, baginda memikirkan pelbagai perkara. Baginda hanya berfikir bagaimana untuk membantu masyarakatnya yang berada dalam kejahilan. Isteri baginda juga turut memberi sokongan kepada baginda untuk melakukan ibadat. ketika baginda sedang mengasingkan diri, baginda sering mendapat mimpi yang memberi petunjuk kepada baginda. Pada malam isnin, 17 ramadan yang ketika itu baginda sedang beribadat seperti biasa dan turunlah malaikat Jibril dan memeluk baginda. Ketika itu Jibril berkata ‘bacalah’ kepada baginda. Sehingga 3 kali malaikat jibril berkata sebegitu dan selepas itu jibril membacakan wahyu yang pertama kepada nabi Muhammad s.a.w iaitu surah Al-‘Alaq ayat (1-5). Wahyu yang pertama baginda terima ini belum menyuruh baginda menyeru manusia ke arah suatu agama. Tetapi itu adalah petunjuk yang baginda bakal menjadi nabi. Pada wahyu yang pertama inilah baginda dilantik menjadi nabi. Selepas peristiwa itu sekian lamanya tidak kedatangan jibril. Seperti biasa nabi Muhammad s.a.w pergi ke Gua Hira’untuk melakukan ibadatnya. Sedang baginda bersendirian kedengaran suara dari langit dan baginda melihat ke langit dan kelihatan malaikat Jibril. Selepas itu segera baginda berlari pulang dan menyuruh isterinya menyelimutkan dirinya. Ketika itulah nabi Muhammad s.a.w mendapat wahyu yang ke 2 yang melantik baginda menjadi rasul. Ayat yang disampaikan oleh Jibril itu ialah surah al-Muddaththir ayat (1-7). Ayat inilah yang menyuruh baginda menyeru umat manusia kepada agama Allah.

Bermulalah kehidupan baginda sebagai seorang Rasulullah. Dalam usaha baginda menyampaikan dakwahnya di makkah baginda mendapat tentangan yang hebat daripada golongan Quraisy. Walaubagaimanapun baginda tetap berdakwah kerana ingin membantu umat manusia merdeka daripada kejahilan. Pelbagai cara digunakan ketika baginda menyampaikan dakwah baginda. Setelah 13tahun baginda berdakwah baginda tidak mendapat hasil. Nabi Muhammad s.a.w berhijrah pula ke madinah yang ketika itu dikenali sebagai Yathrib. Madinah merupakan kawasan tanah yang subur. Masyarakat madinah menerima dakwah Nabi Muhammad s.a.w dengan hati yang terbuka. Islam di madinah mula berkembang. Ketika Nabi Muhammad s.a.w berdakwah di madinah banyak peperangan yang berlaku diantara orang islam dengan orang kafir. Setelah segala rintangan dan dugaan yang dilalui oleh Nabi Muhammad s.a.w, baginda memulakan langkah-langkah ke arah perpaduan masyarakat di madiah. Dalam usaha baginda ini baginda juga dibantu oleh para sahabat yang sanggup berjuang bersama baginda untuk menyampaikan dakwah islam. Ketika itu jugalah baginda memperkenalkan perlembagaan madinah. Perlembagaan ini dipersetujui oleh penduduk madinah yang berbilang kaum itu. Dengan adanya perlembagaan ini madinah akan menjadi Negara yang kukuh. Asas perlembagaan ini adalah menyatupadukan kaum dan merupakan panduan kepada penduduk madinah. Madinah membangun dan maju dibawah pemerintahan Nabi Muhammad s.a.w. Setelah mengkaji dan mempelajari buku ini, Allah telah memerintahkan Nabi-nabinya untuk memimpin umat manusia ke arah kebenaran. Umat Nabi Muhammad adalah umat yang bertuah kerana tiada lagi nabi yang akan diutuskan selepas Nabi Muhammad s.a.w. seharusnya umat islam mengetahui sejarah islam itu sendiri, kerana melalui sejarah manusia mengenali asal-usul mereka. Sekarang yang tinggal hanyalah Al-quran dan sunnah nabi untuk dijadikan panduan kepada umat islam.



Ustaz Abd Aziz bin Harjin
Pensyarah Tamadun Islam
Universiti Teknologi MARA Perlis
02600 Arau
Perlis
MALAYSIA

P: 04-9882701
H: 013-4006206
E: abdazizharjin@perlis.uitm.edu.my
W: abdazizharjin.blogspot.com

Hukum Hudud

Oleh: Muhammad Hafiz Bin Azmi

Prakata
Pertama sekali saya ingin bersyukur kepada Allah s.w.t. kerana telah mempermudahkan kerja saya dalam menyiapkan tugasan ini. Selain itu saya juga ingin berterima kasih kepada Ustaz Abdul Aziz bin Harjin kerana telah memberi tunjuk ajar serta dorongan kepada saya. Seterusnya saya ingin berterima kasih kepada rakan seperjuangan kerana telah banyak membantu saya dalam menyiapkan tugasan ini. Tidak lupa juga kepada keluarga saya yang memberi semangat kepada saya secara berterusan.

HUKUM-HUKUM JENAYAH ISLAM
Hukum-hukum jenayah Islam terbahagi kepada ;
(a) Hukum Hudud
(b) Hukum Qisas
(c) Hukum Ta’zir

A. HUKUM HUDUD
1. Pengertian Hudud;
(a) Dan segi bahasa hudud bererti menahan atau mencegàh.
(b) Dan segi segi istilah hudud ditakrifkan sebagai keseksaan yang telah ditetapkan oleh nas-nas Al-Quran dan AsSunnah yang wajib dilaksanakan sebagai hak Allah s.w.t. Kadar hukumannya tidak boleh dipinda sama ada dikurang atau ditambah.

Maksudnya; “Itulah hukum-hukum yang telah ditentukan. Oleh itu janganlah kamu mencabulnya, dan sesiapa yang mencabuli hukum-hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” Surah al-Baqarah 229

2. Jenis-jenis jenayah hudud dan hukumannya
(a) Zina;
Persetubuhan haram tanpa nikah yang sah antara lelaki dengan perempuan.
Hukuman : Bagi penzina yang belum berkahwin hukumannya ialah sebat 100 kali. Bagi penzina yang telah berkahwin hendaklah direjam sehingga mati.
(b) Qazaf (menuduh zina);
Melemparkan tuduhan zina tanpa bukti terhadap orang yang baik.
Hukuman : sebat 80 kali

(c) Minum arak;
Meminum minuman yang memabukkan dan boleh menghilangkan kewarasan akal.
Hukuman : sebat 40 kali
(d) Mencuri;
Mengambil harta orang lain secara senyap atau sembunyi.
Hukuman : potong tangan
(e) Merompak;

Mengambil harta orang lain dengan menggunakan kekerasan, paksaan, ugutan dan ancaman.
Hukuman :
sekiranya membunuh hendaklah dibunuh
sekiranya hanya merompak sahaja hendaklah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang iaitu tangan kanan dan kaki kiri dan seterusnya kaki kanan dan tangan kiri bagi kesalahan seterusnya.
sekiranya hanya menganggu ketenteraman awam hendaklah dipenjara

(f) Riddah (murtad);
Keluar seseorang Islam itu dan agama Islam sama ada dengan perbuatan dan perkataan.
Hukuman : Bunuh ( setelah diberi tempoh bertaubat selama 3 hari @ 3 kali)
Semua jenayah hudud yang telah sabit kesalahannya wajib dikenakan hukuman hudud tanpa sebarang pengurangan @ pindahan kepada hukuman yang lain spt penjara @ wang.










Salah Faham Terhadap Hudud

Salah faham yang pertama ialah apabila ada menganggap bahawa persoalan Hudud merupakan persoalan yang hanya dikaitkan secara ekslusif dengan golongan ekstrimis Islam. Padahal Hudud merupakan perkara asas dalam persoalan keimanan dan tauhid kepada Allah SWT. Hukum Hudud telah dinyatakan secara jelas di dalam Quran dan Sunnah. Setiap muslim wajib menerima kewajiban Hudud untuk dilaksanakan di kalangan masyarakat Islam.

Hujjah yang mengatakan bahawa Hudud tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman moden adalah hujjah yang dangkal. Sekiranya Hudud ketinggalan zaman, maka begitu jugalah halnya dengan semua hukum syariat yang lain seperti hukum solat, puasa, haji, nikah kahwin, dan jual beli. Kesemua hukum-hukum ini juga dinyatakan secara jelas oleh Al-Quran dan Sunnah.

Contohnya, lelaki yang adil bukan hanya perlu sebagai saksi-saksi dalam pengendalian kes-kes jenayah Hudud, tetapi juga sebagai wali nikah dan imam solat. Maka itu, andaian yang mengatakan bahawa amat sukar untuk mendapatkan saksi yang adil untuk menjadi saksi kes Hudud sebenarnya juga seolah-olah mengandaikan bahawa hukum nikah kahwin dan solat berjemaah tidak lagi perlu dipraktikkan oleh umat Islam sekarang. Tentunya ini merupakan andaian yang liar dan tidak benar.

Sekiranya Hudud mahu dilabelkan sebagai agenda golongan ekstrimis Islam, maka apakah semua orang yang bernikah kahwin mengikut syariat dan bersolat jamaah juga perlu dilabelkan sebagai ekstrimis Islam? Maka, siapa lagi sebenarnya di kalangan umat Islam yang bukan ekstrimis melainkan kesemua muslim yang baik akan digelar ekstrimis Islam belaka.

Salah faham seterusnya ialah apabila kita melihat hukum Hudud dalam bentuknya yang juz'i (stand alone) yang terpisah dari sistem jenayah syariah Islam secara keseluruhan. Islam adalah sistem yang lengkap dan saling melengkapi (kamil wa mutakamil). Setiap elemen dari ajaran Islam tidak boleh diceraikan dari keseluruhan batang tubuh Islam itu sendiri, dan begitu jugalah halnya dengan hukum Hudud. Hukum Hudud dalam bentuknya yang juz'i (stand alone) tidak akan mampu melahirkan keadilan, dan keadaan ini telah dipergunakan sepenuhnya oleh golongan penentang Hudud untuk menggambarkan bahawa Hudud adalah zalim. Mereka menilai Hudud dalam bentuknya yang terpisah dari keseluruhan sistem kehakiman dan perundangan Islam, dan sememangnya Hudud yang diambil secara juz'i ini boleh disifatkan sebagai tidak adil atau zalim.

Contoh yang selalu dikemukakan adalah persoalan rogol. Dalam hukum Hudud, jenayah rogol adalah disamakan dengan jenayah zina. Tahap kesaksian dan hukumannya juga sama. Dalam Hudud juga, menuduh seseorang yang dikenali sebagai orang baik melakukan zina tanpa mendatangkan saksi yang berwibawa merupakan suatu kesalahan Qazaf yang boleh membawa hukuman sebanyak 80 rotan. Lalu diambil peruntukan-peruntukan hudud ini secara terpisah oleh penentang Hudud untuk menggambar betapa mangsa rogol akan dizalimi. Mereka mengandaikan bahawa seorang mangsa rogol perlu mendatang 4 orang saksi lelaki yang adil untuk membuat pengaduan atau menghadapi risiko kesalahan Qazaf. Ini, menurut andaian mereka, adalah menzalimi mangsa rogol dan melindungi perogol.
Padahal, undang-undang yang melibatkan kes rogol perlu dirujuk kepada keseluruhan peruntukan undang-undang jenayah syariah secara lengkap (Hudud, Qisas, Takzir, Undang-undang keterangan, siasah syari'ah) dan tidak boleh dinilai dari perspektif hukum Hudud secara terhad dan terpisah.

Seseorang yang mengadu dirinya dirogol, sepertimana kes-kes biasa, perlu membuat laporan polis dan melakukan pemeriksaan doktor. Ini prosedur biasa. Polis atau pegawai penyiasat akan melakukan penyiasatan berdasarkan lapuran dan keterangan yang diberikan. Sekiranya terdapat bukti yang kukuh bahawa kes rogol sememangnya telah berlaku, pegawai penyiasat akan menyerahkan lapuran kepada pihak pendakwa.

Sekiranya tahap kesaksian untuk pendakwaan dilakukan dalam hukum Hudud tidak mencukupi (tiada 4 orang saksi yang melihat kejadian tersebut), pihak pendakwa masih boleh mendakwanya di bawah undang-undang Takzir. Melalui peruntukan Takzir, beban pembuktian adalah lebih longgar dan hukumannya juga lebih ringan berbanding Hudud. Pemeriksaan doktor dan keterangan-keterangan serta bukti-bukti yang dikumpulkan oleh polis ini (DNA test, lapuran kesihatan, penilaian psychology, dll) dinamakan sebagai Qarinah. Qarinah boleh digunakan sebagai bahan bukti yang boleh mensabitkan kesalahan takzir ke atas perogol. Qarinah ini juga boleh mengelakkan mangsa rogol dari dakwaan Qazaf, kerana Qazaf merupakan kesalahan Hudud dan sebarang keraguan yang boleh ditimbulkan (melalui Qarinah) dalam kes Hudud boleh menggugurkan kes tersebut. Hukuman Hudud boleh dilakukan ke atas seseorang hanya apabila tiada sebarang keraguan langsung (beyond any shadow of doubt). Manakala untuk kesalahan yang boleh dibuktikan secara jelas oleh Qarinah, tetapi tidak mencapai tahap kesaksian yang diperlukan oleh Hudud, hukum Takzir boleh dikenakan terhadap penjenayah tersebut.

Mengaitkan Qazaf dengan kes rogol secara mutlak adalah suatu andaian yang liar dan tidak adil. Hukum Qazaf berfungsi untuk melindungi maruah seseorang individu yang baik dari sebarang tuduhan melulu yang boleh menjatuhkan maruah diri dan keluarganya. Sekiranya, seseorang itu menuduh dirinya dirogol oleh seseorang, sedangkan bukti dan keterangan (Qarinah) yang dibawa menunjukkan sebaliknya, barulah ia boleh didakwa di bawah Qazaf. Contohnya, Minah menuduh Ali merogolnya sehingga mengandung, tetapi ujian DNA menunjukkan bahawa anak tersebut bukanlah dari benih Ali, maka Minah akan menghadapi risiko dakwaan Qazaf melainkan ada 4 orang saksi yang berwibawa yang melihat kejadian rogol tersebut, ataupun dapat dibuktikan secara Qarinah bahawa dia dirogol oleh ramai orang dan Ali adalah salah seorang daripada mereka. Tetapi, sekiranya ujian DNA mengesahkan bahawa anak tersebut memang jelas dari benih Ali, maka Ali boleh didakwa di bawah peruntukan Takzir, manakala Minah tidak akan dihukum di bawah Qazaf. Dalam kes ini, Ali tidak didakwa di bawah Hudud kerana tahap kesaksian tidak menepati kehendak hukum Hudud, sebaliknya beliau akan dihukum di bawah undang-undang Takzir.

Dalam kata lain, sekiranya perkara ini dirujuk kepada keseluruhan rang undang-undang Hudud, Qisas, Takzir, Undang-Undang Keterangan, dan ditambah dengan kefahaman terhadap konsep Siasah Syariah, maka segala keraguan dan andaian liar terhadap Hudud atau mana-mana peruntukan dalam hukum Jenayah Syariah tidak sepatutnya berlaku.
Ibarat kata Tun Salleh Abbas, bekas Ketua Hakim Negara, yang juga salah seorang ahli panel Jawatankuasa Penyediaan Rang Undang-Undang Hudud dan Qisas, " Sekiranya undang-undang ini dilaksanakan dengan mendapatkan kerjasama semua pihak, kebanyakan masalah yang melibatkan sistem Perundangan dan Kehakiman negara dapat diselesaikan, di samping mencapai matlamat mengurangkan kadar jenayah dan kerosakan akhlak. "

Kesilapan melihat peruntukan hukum jenayah syariah dalam bentuknya yang stand alone (juz'i) ini juga berlaku kepada pengkritik hukum Qisas. Mengikut peruntukan hukum Qisas, seorang pembunuh itu wajib dibalas bunuh melainkan beliau mendapat persetujuan dari waris mangsa untuk membayar diyat (gantirugi), ataupun pengampunan terus dari waris mangsa. Andaian yang sering dibuat oleh penentang Qisas ialah bahawa seorang pembunuh yang kejam dan merbahaya akan terlepas dari hukuman sekiranya waris mangsa bersetuju mendapat bayaran ganti rugi atau mengampunkan pembunuh tersebut. Sekiranya ini berlaku, pembunuh itu boleh terus membunuh mangsa-mangsa yang lain.

Sekiranya kita membaca peruntukan tersebut secara lengkap dan bersama dengan peruntukan-peruntukan yang lain, sebenarnya Hakim masih boleh menjatuhkan hukuman Takzir ke atas pembunuh itu, di samping hukum Qisas sekiranya pihak Mahkamah bersetuju bahawa pembunuh tersebut perlu dihukum bagi menjamin ketenteraman awam. Dalam kata lain, walaupun pembunuh tersebut mendapat pengampunan dari waris mangsa dari dijatuhkan hukuman bunuh balas (Qisas), beliau masih boleh dihukum penjara atau hukuman-hukuman lain yang setimpal dengan kesalahannya. Jadi, tidak timbul persoalan samada seseorang penjenayah itu dengan mudah boleh melepaskan diri dengan memberi rasuah kepada waris mangsa.

Seperkara lagi yang sering diabaikan dalam perbahasan berkenaan Hudud ialah peri pentingnya kefahaman terhadap Siasah Syar'iah di dalam perlaksanaan Undang-Undang Jenayah Syariah. Kebanyakan mereka yang menentang Undang-Undang Hudud dan Qisas adalah terdiri dari kalangan mereka yang mempunyai kefahaman yang sangat terhad terhadap Siasah Syari'ah. Siasah Syar'iah amat penting bagi menghadapi kes-kes yang rumit dan spesifik. Para Hakim dan Peguam Syari'ah adalah mereka yang terlatih di dalam ilmu Siasah Syari'ah. Ini penting agar keadilan sistem perundangan Islam dapat dilaksanakan.

Umpamanya penentang Hudud mempersoalkan tentang keperluan saksi lelaki di dalam kes-kes Hudud, dan bagaimana sekiranya kejadian rogol dilakukan di asrama wanita. Kes seperti ini boleh dirujuk kembali kepada perbicaraan terhadap pembunuhan Osman bin Affan, salah seorang Khalifah Islam. Saksi kepada pembunuhan tersebut ialah isteri Osman sendiri, dan tiada saksi lelaki. Hakim, menggunakan kaedah Siasah Syari'ah bagi membenarkan kesaksian dari kaum wanita kerana kes-kes tersebut memerlukan kesaksian mereka. Oleh kerana kesaksian beliau cukup kukuh dan tidak dapat dicabar di mahkamah, maka kesaksian tersebut diterima di dalam perbicaraan itu.
Begitulah juga dengan peristiwa yang berlaku di zaman pemerintahan Islam di mana terdapat seorang gadis yang mengandung lalu dibawa ke muka pengadilan. Gadis itu mempertahankan dirinya menyatakan bahawa beliau tidak tahu sesiapa yang merogolnya, tetapi menyebut bahawa beliau adalah seorang yang terlalu kuat tidur sehingga tidak sedar jika diperlakukan sesuatu yang tidak baik ke atasnya. Memandangkan kes ini jarang berlaku, hakim telah membenarkan tertuduh mengemukakan beberapa saksi yang boleh mengesahkan dakwaannya bahawa beliau adalah seorang yang terlalu kuat tidur. Setelah hakim berpuas hati dengan kesaksian bahawa gadis tersebut memang dikenali sebagai seorang wanita yang taat beragama serta berakhlak baik, dan kesaksian bahawa beliau memang seorang yang terlalu kuat tidur sehingga tidak sedar diperlakukan sesuatu ke atasnya ketika sedang tidur, maka hakim telah menggugurkan kes tersebut kerana terdapat keraguan yang munasabah bahawa gadis tersebut telah berzina secara sukarela.

Bagi mereka yang memahami persoalan Siasah Syar'iah secara mendalam, Hukum Hudud merupakan suatu sistem perundangan yang adil dan dinamik yang mampu menangani persoalan semasa selari dengan kemajuan saintifik dan perkembangan sosio-ekonomi masyarakat. Sebenarnya, terlalu banyak kes-kes penghakiman di dalam sistem perundangan Islam yang mempu membuktikan bahawa sistem ini merupakan sistem yang adil dan dinamik, di samping menepati kehendak syara' seperti yang telah digariskan oleh Al-Quran dan Sunnah.

Umpamanya, kes rogol mungkin tidak berlaku paksaan secara fizikal semata-mata. Ia juga boleh berlaku melalui tipu muslihat lain seperti kaedah tekanan mental, perasaan, dan lain-lain. Seorang mangsa rogol umpamanya mungkin terpaksa menyerahkan dirinya kepada seseorang yang dianggap lebih berkuasa dan berpengaruh serta boleh menjejaskan kehidupan keluarganya dalam pelbagai sudut. Pembuktian kes-kes seperti tentunya lebih rumit dan memerlukan pendekatan Siasah Syari'ah yang lebih mendalam. Bagaimanapun, tentulah dangkal dan tidak benar untuk mengatakan bahawa hukum Islam telah ketinggalan zaman sedangkan ianya telah terbukti mampu menjadi tunggak kehakiman ummah selama lebih seribu tahun sejak terdirinya kerajaan Islam di Madinah sehinggalah kepada kejatuhan Khalifah Othmaniah pada tahun 1924.
Apa yang menjadi masalah ialah ramai umat Islam hari ini yang sudah terpisah dengan pengamalan syariat Islam sehingga merasa cukup asing dan melihat hukum syariah dengan penuh prejudis dan kecurigaan, sedangkan mereka tidak mempunyai kefahaman yang mendalam berkenaan ilmu tersebut. Apatah lagi apabila masyarakat bukan Islam yang juga cuba menilai hukum ini dengan keilmuan sifar, secara tidak beradab mencela dan menghina hukum Islam. Wallahua'lam.
“Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali sebat; dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum agama Allah, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat; dan hendaklah disaksikan hukuman seksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan orang-orang yang beriman (-percaya dan yakin pada Allah rujuk Rukun Iman dalam Islam)” [An-Nur: 02]
Dan orang-orang yang melemparkan tuduhan (zina) kepada perempuan yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka tidak membawakan empat orang saksi, maka sebatlah mereka delapan puluh kali sebat; dan janganlah kamu menerima persaksian mereka itu selama-lamanya; kerana mereka adalah orang-orang yang fasik;- kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu serta memperbaiki amalannya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani” [An-Nur: 04 & 05]
a. Mengapa harus kita takut pada hukuman yang ditetapkan agama jika diri tidak mempunyai hajat atau niat melakukan kesalahan?
b. Mengapa harus kita takut pada hukuman yang dijalankan didunia? Apakah kepercayaan kita kepada hari akhirat dengan azab yang lebih menyeksakan itu tidak cukup untuk membina landasan taqwa(takut) pada Allah?

HUKUM HUDUD
1. Hukum hudud adalah hukuman yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di dalam Quran dan Hadis. Hukuman hudud ini adalah Allah yang tidak boleh ditukar ganti hukumannya dan tidak boleh diubah suai dan dipinda.
2. Hukum hudud tidak boleh dimaafkan oleh sesiapapun. Mereka yang melanggar aturan-aturan hukum Allah yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah dan Rasulnya yang disebut di dalam Quran dan hadis adalah termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim. Firman Allah swt.
Dan sesiapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang zalim - Surah al-Baqarah 229
3. Kesalahan-kesalahan yang wajib dikenakan hukuman hudud ialah:
a) Berzina iaitu melakukan persetubuhan tanpa nikah yang sah mengikut syara.
b) Menuduh orang berzina(qazaf), iaitu membuat tuduhan zina keatas orang yang baik lagi suci atau menafikan keturunannya, dan tuduhan itu tidak dapat dibuktikan dengan empat orang saksi.
c) Minum arak atau minuman yang memabukan, samada sedikit atau banyak, mabuk atau tidak.
d) Mencuri, iaitu memindahkan secara bersebunyi harta alih dari jagaan atau milik tuannya tanpa persetujuan tuannya dengan niat untuk menghilangkan harta itu dari jagaan atau milik tuannya.
e) Murtad, iaitu orang yang keluar dari agama islam, samada dengan perbuatan atau dengan perkataan, atau dengan iktikad kepercayaan.
f) Merompak (hirabah), iaitu keluar seorang atau sekumpulan yang bertujuan untuk mengambil harta atau membunuh atau menakutkan denan cara kekerasan.
g) Pendurhaka (bughat), iaitu segolongan umat Islam yang melawan atau menderhakan kepada Ulil Amri yang menjalakan syariat Islam dan hukum-hukum Allah.



Ustaz Abd Aziz bin Harjin
Pensyarah Tamadun Islam
Universiti Teknologi MARA Perlis
02600 Arau
Perlis
MALAYSIA

P: 04-9882701
H: 013-4006206
E: abdazizharjin@perlis.uitm.edu.my
W: abdazizharjin.blogspot.com

Islam Dan Kepercayaan

Oleh : Mohammad Razin Bin Zakaria

Islam merupakan agama Ibrahim monoteistik yang berasal dengan pengajaran dari Nabi Islam Muhammad s.a.w, seorang tokoh politik dan keagamaan Arab abad ke-7. Perkataan Islam bermaksud "penyerahan" atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Seorang penganut Islam dikenali sebagai Muslim bermaksud "seorang yang tunduk Allah. Terdapat antara 1 bilion ke 1. 8 bilion Muslim, menjadikan Islam agama kedua terbesar di dunia, selepas Kristian.
Muslim percaya bahawa Allah mewahyukan Al-Qur`an kepada Nabi Muhammad s.a.w penutup segala Nabi Allah, dan menganggap Al-Qur'an dan Sunnah iaitu sabda dan amalan Nabi Muhammad s.a.w sebagai sumber utama Islam. Umat Islam tidak menganggap Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pengasas agama baru, tetapi sebagai pemulih keimanan monoteistik ajaran Nabi Ibrahim, Nabi Musa a.s, Nabi Isa a.s., dan lain-lain nabi. Tradisi Islam menegaskan bahawa Yahudi dan Kristian memutarbalikkan wahyu yang Allah berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks atau memperkenalkan tafsiran palsu, atau kedua-duanya. Islam memerintahkan banyak amalan keagamaan. Penganut Islam umumnya dikehendaki memegang Rukun Islam, yang merupakan lima tanggungjawab yang menyatukan Muslim ke dalam sebuah masyarakat. Selain itu, hukum Islam (syariah) telah membangunkan hukum yang menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktik seperti hukum pemakanan dan perbankan kepada jihad dan zakat. Hampir kesemua Muslim tergolong kepada salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunah (85%) dan Syiah (15%).
Perkataan Islam merupakan penyataan kata nama berasal dari kata akar tiga konsonan s-l-m, dan diperolehi dari Kata kerja bahasa Arab Aslama, iaitu bermaksud "untuk menerima, menyerah atau tunduk. " Demikian, Islam bermaksud penerimaan dari dan penundukan kepada kepada Allah, dan penganut harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menurut perintah-Nya, dan mengelakkan politheisme. Perkataan ini memberikan sebilangan maksud dari Al-Qur'an.

Rencana keimanan

Al-Qur'an menyatakan bahawa semua Muslim harus percaya pada Allah, wahyu-Nya, malaikat-Nya, pesuruh-Nya, dan pada "Hari Pengadilan". Juga, terdapat kepercayaan lain yang berbeza antara mazhab khusus. Konsep Sunah dari takdir dipanggil takdir ketuhanan, Manakala versi Syi'ah pula dipanggil keadilan ketuhanan. Unik kepada Syi'ah ialah Imamah, atau kepimpinan politikal dan spiritual dari Imam.

Muslim percaya bahawa Allah mewahyukan pesanan terakhir-Nya kepada kemanusiaan melalui Nabi Islam Muhammad s.a.w. melalui malaikat Jibrail. Bagi umat Islam, Nabi Muhammad s.a.w. merupakan Nabiullah terakhir dan Al-Qur'an merupakan wahyu yang baginda terima lebih dari dua dekad. Dalam Islam, nabi-nabi adalah lelaki yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pesuruh-Nya. Muslim percaya bahawa nabi-nabi adalah manusia dan bukan ketuhanan, meskipun sesetengah mampu melakukan mukjizat untuk membuktikan kenabian mereka. Nabi-nabi Islam dianggap menjadi paling rapat kesempurnaan dari semua manusia, dan uniknya merupakan penerima dari wahyu ketuhanan-samada terus dari Allah atau melalui malaikat. Al-Qur'an menerangkan nama-nama dari berbagai tokoh yang dianggap nabi-nabi dalam Islam. Teologi Islam mengatakan bahawa semua pesuruh Allah sejak Nabi Adam a.s. memberi perutusan dari supaya tunduk kepada Allah.

Allah

Konsep Islam teologikal fundamental ialah tauhid-kepercayaan bahawa terdapat hanya satu Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Allah; kebanyakan ilmuawan percaya ia diperolehi dari penyingkatan dari kata al- (si) dan -llah (dewa, bentuk maskulin), bermaksud "Tuhan", tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari Arami Alaha. Yang pertama dari Lima Rukun Islam, tauhid diluahkan dalam Syahadah iaitu pengakuan

Dalam tradisi teologi Islam, Allah adalah melebihi semua komprehensi; Muslim tidak menjangkakan untuk membayangi Allah tetapi untuk sujud pada-Nya sebagai pencipta alam. Walaupun Muslim percaya bahawa Nabi Isa a.s. merupakan nabi, mereka menolak pendapat Kristian dari Tritunggal, membandingkannya kepada politheisme. Dalam teologi Islam, Nabi Isa a.s. hanyakan manusia dan bukan anak Allah. Allah dihuraikan dalam ayat surah dari Al-Qur'an sebagai ". Allah, Yang Satu dan Satu-satunya; Allah, Yang Kekal, Mutlak; Dia tidak beranak, dan Dia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang serupa dengan-Nya. "

Al-Quran

Perkataan Al-Qur'an bermaksud "membaca". Muslim menganggap Al-Qur'an menjadi kata literal dari Allah; ia adalah pusat teks keagamaan dari Islam. Muslim percaya bahawa ayat dari Al-Qur'an telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. oleh Allah melalui malaikat Jibrail pada banyak peristiwa antara 610 dan kewafatan baginda pada 8 Jun 632. Al-Qur'an telah ditulis oleh sahabat Nabi Muhammad s.a.w. semasa baginda masih hidup, walaupun cara prima dari penerimaan merupakan lisan. Ia telah disusun pada zaman Abu Bakar as-Siddiq, khalifah pertama, dan telah dipiawaikan dibawah pentadbiran Uthman bin Affan, khalifah ketiga. Al-Qur'an dalam bentuk masa kini selalunya dianggap oleh sarjana akademik untuk merekodkan kata yang ditutur oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Al-Qur'an dibahagikan kepada 114 surah, iaitu bergabung, mengandungi 6, 236 ayat. Surah lebih awal secara kronologinya, diturunkan di Makkah, menekankan dengan topik etikal dan spiritual. Surah Madinah berikutnya kebanyakannya membincangkan isu sosial dan moral yang relevan kepada komuniti Muslim. Al-Qur'an lebih menekankan dengan panduan moral berbanding pengajaran sah, dan telah dianggap "buku sumber prinsip dan nilai Islam". Juris Muslim merujuk hadith iaitu rekod bertulis dari kehidupan Nabi Muhammad s.a.w., kepada kedua-dua bekalan dari Al-Qur'an dan membantu dengan tafsirannya.

Nabi Muhammad S.A.W
Nabi Muhammad s.a.w. merupakan ketua keagamaan, politikal, dan ketenteraan yang mengasaskan agama Islam sebagai fenomena bersejarah. Muslim melihat baginda bukan sebagai pencipta agama baru, tetapi sebagai pemulih dari keimanan monotheistik asal dan yang, tak tercemar dari Nabi Adam a.s., Nabi Ibrahim a.s. dan yang lain. Dalam tradisi Muslim, Nabi Muhammad s.a.w. dilihat sebagai siri nabi-nabi yang terakhir dan yang terhebat kerana manusia yang paling rapat kepada kesempurnaan, pemilik semua sifat baik. Selama 23 tahun kehidupan terakhirnya, bermula pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad s.a.w. dilaporkan menerima wahyu dari Allah. Kandungan dari wahyu ini, dikenali sebagai Al-Qur'an, telah dihafal dan direkodkan oleh sahabat baginda. [34]

Semasa zaman ini, Nabi Muhammad s.a.w. berdakwah kepada orang Makkah, merayu mereka untuk meninggalkan politeisme. Walaupun sesetengah memeluk Islam, Nabi Muhammad s.a.w. dan pengikutnya telah ditindas oleh pihak berkuasa Makkah. Selepas 13 tahun berdakwah, Nabi Muhammad s.a.w. dan orang Muslim melakukan hijrah ke bandar Madinah dahulu dkenali sebagai Yathrib pada 622M. Di Madinah dengan mualaf Madinah dikenali sebagai Ansar dan migran Makkah sebagai Muhajirin, Nabi Muhammad s.a.w. mendirikan kuasa keagamaan dan politikalnya. Dalam bertahun, dua pertempuran telah ditempur terhadap tentera Makkah iaitu Perang Badar pada 624, iaitu merupakan kemenangan Muslim, dan Perang Uhud pada 625, yang berakhir tidak muktamad. Konflik dengan bani Yahudi Madinah yang menentang Muslim membawa kepada pembuangan mereka, perhambaan atau kematian, dan enklaf Yahudi dari Perang Khaibar telah ditakluk. Pada masa sama, jalan perdagangan Makkah telah disekat laksana Nabi Muhammad s.a.w. membawa puak gurun sekeliling dibawah kawalan baginda. Pada 629 Nabi Muhammad telah memenangi Penaklukan Makkah dalam hampir tanpa pertumpahan darah, dan pada masa kewafatannya pada 632 dia memerintah seluruh semenanjung Arab.

Malaikat

Kepercayaan kepada malaikat penting dalam keimanan Islam. Kata bahasa Arab untuk Malaikat iaitu MALAK bermaksud "perutusan". Menurut kepada Al-Qur'an, malaikat tidak memiliki keinginan bebas, dan menyembah Allah dengan kepatuhan sempurna. Tugas malaikat termasuk menerima wahyu dari Allah, mengagungkan Allah, mencatat setiap perbuatan manusia, dan mengambil jiwa manusia pada masa kematian. Mereka juga difikirkan untuk perantaraan bagi pihak manusia. Al-Qur'an menghuraikan malaikat yang bermaksud sebagai perutusan dengan dua-kepak, atau tiga, atau empat :Allah menambahkan Ciptaan mengikut kemahuan-Nya…

Kebangkitan dan pengadilan
Percaya pada "Hari Kebangkitan" juga dikenali sebagai Ad-Din, "hari Pengadilan" penting untuk Muslim. Mereka percaya bahawa hari kebangkitan ditentukan oleh Allah tetapi tak diketahui oleh manusia. Ujian dan kesengsaraan mendahului dan semasa kiamat dihuraikan dalam Al-Qur'an dan hadith, dan juga dari sarjana Islam. Al-Qur'an menekankan kebangkitan jasad, satu pecahan dari Arabia Pra-Islam dalam kefahaman dari kematian. Ia menyatakan bahawa kebangkitan akan diikuti oleh perhimpunan manusia, berakhir dengan pengadilan mereka oleh Allah.
Al-Qur'an menyenaraikan beberapa dosa yang boleh melaknat seseorang ke Neraka Jahannam, seperti kufur, riba dan ketidakjujuran. Muslim gambarkan syurga sebagai tempat keriangan dan kebahagiaan, dengan rujukan Al-Qur'an menhuraikan cirinya dan dan keseronokan fizikal yang akan datang. Terdapat juga rujukan kepada penerimaan-keriangan lebih hebat oleh Allah Yang Maha Megetahui. Tradisi mistikal dalam Islam meletakkan keseronokan kesyurgaan dalam konteks dari kesedaran kepada Allah.

Takdir

Dalam selarasan dengan kepercayaan Islam dalam takdir, atau penentuan ketuhanan, Allah mempunyai pengetahuan penuh dan kawalan atas semua yang berlaku. Ini dijelaskan dalam ayat Al-Qur'an seperti yang bermakssud "Katakan: 'Tiada yang akan berlaku kepada kami kecuali apa yang Allah takdirkan kepada kami: Dia merupakan pelindung kita'…”. Untuk Muslim, segala di dunia yang berlaku, baik atau jahat, telah ditentukan dan tiada yang boleh berlaku kecuali atas izin Allah. Dalam pemikiran Islam, penentuan ketuhanan tidak menganjurkan melakukan sesuatu dari kemarahan Allah terhadap kejahatan, kerana sebarang kejahatan yang berlaku adalah difikirkan untuk mengakibatkan faedah masa hadapan yang manusia tak boleh lihat. Menurut kepada ahli teologi Muslim, walaupun peristiwa adalah ditentukan, manusia memiliki kemahuan bebas padanya dia boleh memilih antara betul atau salah, dan demikian bertanggungjawab atas perbuatannya. Menurut tradisi Islam, semua yang telah ditakdirkan oleh Allah ditulis dalam "Batu Suratan Terpelihara".

Kefahaman Syi'ah mengenai takdir dipanggil ADALAH iaitu"keadilan ketuhanan". Kefahaman ini, asalnya dibangunkan oleh Mu'tazila, menekankan kepentingan tanggungjawab manusia untuk perbuatannya sendiri. Dalam kontras, Sunah nyah-tekankan peranan kemahuan bebas individu dalam konteks pengetahuan dan ciptaan Allah dari semua benda.

Rukun islam

Lima Rukun Islam adalah lima amalan keperluan kepada Islam Sunah.

Wasiat ini adalah asas untuk semua kepercayaan lain dan amalan dalam Islam walaupun secara teknikalnya Syi'ah tidak menganggap syahadah menjadi rukun terasing, hanyalah kepercayaan. Muslim harus mengulangi syahadah dalam sembahyang, dan bukan-Muslim yang ingin memeluk Islam diperlukan untuk membaca fahaman ini.
• Solat, atau upacara sembahyang, iaitu harus dilakukan lima kali sehari. Bagaimanapun, Syi'ah diperlukan untuk lakukan pada tengahari dengan sembahyang tengahari, dan petang dengan sembahyang malam. Setiap solat selesai mengadap Kaabah di Makkah. Solat dilakukan untuk memfokuskan minda pada Allah, dan dilihat sebagai komunikasi peribadi dengan-Nya yang meluahkan kesyukuran dan penyembahan. Solat adalah wajib tetapi fleksibiliti dalam spesifik dibenarkan bergantung pada keadaan. Di kebanyakan negara Muslim, peringatan yang dipanggil Adhan iaitu panggilan kepada sembahyang disiarkan secara umum dari masjid tempatan pada masa yang sesuai. Ibadat ini dibaca dalam bahasa Arab, dan terdiri dari ayat dari Al-Qur'an.
• Zakat, atau pemberian sedekah. Ini adalah amalan pemberian berdasarkan pada kekayaan yang dikumpul, dan wajib untuk semua Muslim yang mampu membayarnya. Bahagian yang ditetapkan digunakan untuk membantu yang miskin dan yang memerlukan, dan juga untuk membantu menyebarkan Islam. Zakat dianggap kewajipan keagamaan bertentangan dengan kebajikan sukarela yang diluar berhutang kepada yang memerlukan kerana kekayaan mereka dilihat sebagai amanah dari pemberian Allah. Al-Qur'an dan hadith juga mencadangkan seorang Muslim memberikan lebih sebagai tindakan pemberian sedekah. Ramai orang Syi'ah dijangka untuk membayar kadar tambahan dalam bentuk cukai iaitu mereka menganggap menjadi amalan upacara terasing.
• Puasa, atau berpuasa pada bulan Ramadan selama 30 hari. Muslim harus tidak makan atau minum dan perkara-perkara yang di haramkan untuk dilakukan sewaktu berpuasa dari subuh hingga senja semasa bulan ini, dan harus berwaspada dari dosa lain. Puasa ini ialah untuk menggalakkan rasa dekat pada Allah, dan semasanya Muslim patut meluahkan kesyukuran dan bergantungan mereka kepada-Nya, bertaubat dari dosa mereka yang lalu, dan memikirkan pada yang memerlukan. Puasa tidak wajib untuk beberapa kumpulan iaitu ia akan membawa kepada beban yang berlebihan. Untuk yang lain, fleksibiliti dibenarkan bergantung pada keadaan, tetapi tertinggal puasa lazimnya harus diqadakkan segera.

• Haji bagi yang mampu, iaitu merupakan ziarah semasa bulan Islam bermula dari Zulhijjah di bandar Makkah. Setiap Muslim yang mampu yang boleh melakukannya harus membuat ziarah ke Makkah sekurang-kurangnya sekali seumur hidupnya. Apabila penziarah ialah sekitar 10 kilometer dari Makkah, dia harus berpakaian dalam pakaian Ihram, iaitu terdiri dari dua helai tak kelim putih. Upacara Haji termasuk berjalan tujuh kali mengelilingi Kaabah yang dikenali sebagai tawaf, menyentuh Batu Hitam iaitu Hajjaratul Aswad, berjalan tujuh kali antara Gunung Safa dan Gunung Marwah iaitu sa`i, dan secara simboliknya melontar jamrah di Mina. Penziarah, atau penghaji, dianugerahkan dalam komunitinya, walaupun guru Islam mengatakan bahawa Haji patut dijadikan luahan dari kebaktian pada Allah berbanding dari kenaikan kedudukan sosial.

Hukum
Syariah merupakan hukum Islam yang dibentuk oleh kesarjanaan tradisi Islam. Dalam Islam, Syariah ialah luahan dari kemahuan ketuhanan, dan membentuk satu sistem tugas yang kekal atas seorang Muslim mengikut kebaikan dari kepercayaan agamanya.

Hukum Islam meliputi semua aspek kehidupan, dari hal negeri, seperti pentadbiran dan hubungan luar, kepada isu kehidupan seharian. Al-Qur'an menakrifkan hudud sebagai hukuman untuk lima jenayah spesifik iaitu zina, tuduhan zina, penggunaan alkohol, kecurian, dan rompakan di lebuhraya. Al-Qur'an dan Sunnah juga mengandungi hukum dari pewarisan, perkahwinan, dan pembalasan untuk kecederaan dan bunuh, baik juga seperti peraturan untuk berpuasa, kebajikan, dan solat.

Fiqh, ditaksirkan sebagai pengetahuan dari peraturan praktikal agama. Cara bagi khalifah Islam gunakan untuk memerintah dikenali sebagai usul al-fiqh atau prinsip fiqh. Menurut teori Islam yang sah, hukum mempunyai empat rumpun fundamental, iaitu diberikan pendahuluan dalam perintah iaitu Al-Qur'an, Sunnah yang berkaksud perbuatan dan perkataan Nabi Muhammad s.a.w., sepertujuan dari Khalifah Muslim dikenali sebagai ijma’, dan penyebaban analogical dikenali qiyas. Untuk juris Islam awal, teori kurang penting dari aplikasi pragmatik dari hukum ini. Pada abad ke-9, khalifah as-Shafi'i memberikan asas teoretikal untuk hukum Islam dengan mengkodkan prinsip fiqh termasuk juga empat rumpun fundamental dalam bukunya yang bertajuk Ar-risalah.


Ustaz Abd Aziz bin Harjin
Pensyarah Tamadun Islam
Universiti Teknologi MARA Perlis
02600 Arau
Perlis
MALAYSIA

P: 04-9882701
H: 013-4006206
E: abdazizharjin@perlis.uitm.edu.my
W: abdazizharjin.blogspot.com